- 14 Nov, 2022 09:05
Mataram Badan Penghubung. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) triwulan III 2022 tumbuh 7,10 % dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (yoy). Pariwisata dan ekspor pendongkrak utama. Bank Indonesia (BI) mengapresiasi.
Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 38,79 persen. Dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 34,54 persen.
Pertumbuhan terjadi sejak Triwulan I s/d III-2022 terhadap Triwulan I s/d III- 2021 sebesar 6,93 persen (c-to-c). Pertumbuhan tersebut terjadi dampak dari semakin membaiknya sektor pariwisata.
"Pertumbuhan terjadi pada 16 lapangan usaha, sedangkan satu lapangan usaha lainnya mengalami kontraksi," kata Ahli Madya BPS NTB, Arrief Chandra Setiawan, di Mataram, beberapa hari lalu. Menurutnya dari sisi lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan signifikan adalah penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 38,79 persen. Seperti jumlah tamu menginap di hotel meningkat 85,42 persen dan rata-rata tingkat penghunian kamar meningkat 19,64 persen pada triwulan III 2022 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Deputi Gubernur BI, Doni Primanto Joewono mengapresiasi NTB karena memiliki persentase pertumbuhan ekonomi positif di angka 7,10%, lebih baik dari nasional yang berada di kisaran 5,72%. Pendongkrak utama adanya penguatan dari sisi ekspor, dan pariwisata ditambah dengan event inyternasional seperti WSBK Mandalika 2022.
"Saya turut bangga dan mengapresiasi forum NTB Genjot Ekspor bisa mendorong kinerja ekspor, semoga momentum ini bisa kita manfaatkan dengan baik untuk pulih lebih cepat dan bangkit lebih kuat,” ucap Doni saat melepas UMKM Ekspor dan Pariwisata NTB yang merupakan bagian dari dukungan BI pada gelaran World Super Bike (WSBK) Mandalika 2022, Sabtu (12/11/2022).
Kepala KPW BI Provinsi NTB, Heru Saptaji yang menjelaskan keberhasilan menangkap peluang ekspor non-tambang sebagai new source engine of growth di wilayah NTB antara lain komoditas vanili organik, kopi, sarang burung walet, rumput laut, dan ikan tuna.
“Keberhasilan ekspor bukan suatu perjalanan yang singkat, diperlukan upaya pendampingan secara end to end baik dari sisi hulu sampai ke hilir,” ungkapnya.
Selain itu, berbagai intervensi dilakukan KPW BI Provinsi NTB, antara lain dari aspek sarana dan prasarana produksi, green house, pemasaran produk hingga luar negeri, fasilitasi pengiriman sampel produk ke luar negeri, serta berbagai aspek penunjang lainnya. (kompilasi. Foto; ist)