- 09 Mar, 2021 17:58
Badan Penghubung NTB
Sesuai namanya, NTB-Unram (Enram) adalah alat Rapid Test Antigen yang diciptakan oleh Universitas Mataram bersama Laboratarium Hepatika Bumi Gora. Jangan salah, tingkat akurasinya tidak kalah dengan alat sejenis yang selama ini digunakan untuk tracing contact.
"Selama ini, berbicara Corona Virus itu, identik dengan alat-alat yang canggih dan berada di kota-kota besar. Namun, dengan proses penelitian dan riset Laboratorium Hepatika dan Unram mampu menghasilkan inovasi alat Rapid Test Antigen," kata Gubernur NTB Zulkieflimansyah dalam keterangan tertulis, belum lama ini.
Saat press conference peluncuran rapid test antigen, di Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur NTB, Zulkiefli mengatakan kolaborasi Laboratorium Hepatika dan Rumah Sakit Unram mampu membuat alat yang memiliki akurasi yang tinggi untuk menguji COVID-19.
Menurut Gubernur, selama ini di NTB terkendala dengan alat. Sehingga dengan ditemukannya alat dengan akurasi tinggi ini diharapkan dapat mengurangi angka penyebaran virus Corona di NTB. Kan kehadiran alat produk lokal diharapkan mampu mengatasi pandemi.
"Kalau sudah alatnya jelas, maka tracingnya cepat. Mudah-mudahan pandemi ini cepat teratasi," katanya.
Ia pun meminta agar alat rapid test antigen 'Enram' ini dapat diproduksi lebih banyak lagi. Ia menargetkan akhir Maret 2021 dapat diproduksi sebanyak 50.000.
"Lebih cepat lebih baik, minimal akhir Maret 2021 dapat diproduksi 50.000 alat," tuturnya.
Menurut Bang Zul, demikian Gub NTB akrab disapa, bahwa dengan adanya 'Enram', membuktikan industrialisasi tidak identik dengan pabrik-pabrik besar. Bahkan ia yakin bila diberi kesempatan dan sumber daya, NTB mampu membuat vaksin. Ia mengapresiasi usaha dan ikhtiar Kepala Laboratorium Hepatika Bumi Gora Prof. Mul dan Rektor Unram Prof. Lalu Husni.
"Atas nama pemerintah daerah, kami mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada Hepatika dan Unram," ucapnya.
Pada kesempatan yang sama Rektor Unram Prof. Lalu Husni menjelaskan temuan ini bagian dari riset dan inovasi, yang menjadi kebijakan pemerintah, dalam mendorong perguruan tinggi (PT) untuk melakukan penelitian, penemuan dan inovasi, terutama di era pandemi COVID-19 ini.
"Riset ini inovasi, memantik PT untuk menciptakan hasil karya yang mampu mengatasi persoalan di masa COVID-19, sehingga kita mampu mandiri," kata Lalu.
Ia juga mengapresiasi tim Rumah Sakit Unram bersama tim Laboratorium Hepatika Bumi Gora, yang telah terus berkreasi dan berinovasi membantu daerah bahkan bangsa dan negara.
Kepala Laboratorium Hepatika Bumi Gora Prof Mulyanto yang menginisiasi riset dan penelitian untuk menciptakan alat rapid test antigen menjelaskan setelah membuat alat rapid test antibodi bekerja sama dengan Universitas Gajah Mada dan Padjajaran yang dinamai RIGHA, Hepatika ditantang oleh Gubernur NTB untuk membuat inovasi menciptakan alat rapid test antigen bekerja sama dengan Unram.
"Kami yang memproduksi produk, kemudian hasilnya dievaluasi oleh Unram," kata dia.
Produk karya NTB ini telah melalui proses seperti validasi dan uji lainnya. Untuk menguji akurasinya alat ini dibandingkan dengan sampel virus menggunakan PCR dan anti virus yang telah beredar atau komersil lainnya.
Hasilnya, kata Mul, sangat memuaskan. Sensitivitasnya dan spesifitasnya lebih baik dari salah satu alat tes cepat yang beredar di pasaran. Akurasi alat ini sensitivitasnya sekitar 91 persen, dengan spesifitasnya sekitar 96 persen. Artinya, dapat mendeteksi paling tidak dari 100 pasien positif, sejumlah 91 orang yang dapat dideteksi dengan produk ini.
Kalau tidak dapat dideteksi dengan alat ini, artinya jumlah virusnya sangat rendah dan tidak menular. Dibanding dengan produk lain ada yang sensitivitasnya 80 persen. Produk ini juga merupakan hasil dari uji coba dengan 2 produk alat komersial sebagai pembanding.
"Namun lebih bagus kita," tegasnya.
Selain itu, alat ini juga tergolong murah dengan harga kurang lebih Rp 100.000 dan dapat langsung mendapatkan hasil sekitar 15 menit.
"Pembuatan alat bahannya sama dan cepat, lebih mudah dibanding dengan membuat alat sebelumnya," tutupnya. (*)